atas nama rasa ini itu, kuuntai kata menjadi larik - larik yang bercerita tentang aku dan gadis mawar biru.
Friday, May 31, 2013
tertahan.
ra, aku ingin bercerita tentang patah hati, lagi. jangan salahkan aku jika topikku ini ini saja. selain memang tema ini tak kan pernah habis dibahas para pujangga, juga karena memang hatiku hanya sewarna sejak lalu. membiru lebam.
kamu tau, ra, aku selalu bisa menjaga diri agar tidak jatuh pada lubang frustasi. aku tidak ingin ada kata putus asa mengenai dia. hanya ada dua pilihan. optimis, atau rela.
"suatu waktu, akan ada hari yang tak biasa, dan kita bisa bersama."
"selama senyummu merona, aku tidak akan kenapa2."
tidak ada dusta di semua itu. aku tidak mengada2. semua nyata apa adanya. hanya saja, semua sirna entah kemana hari ini. anomali. aku lupa untuk optimis. aku lupa pada kalimat "cinta tak harus memiliki" dan "cinta berarti merelakan". aku lupa dan membiarkan luka meraja.
kurasakan tiap pergerakan yang mencakar mencabik melukai hati ini. ketika kulit dan daging tersayat. ketika darah mengucur deras. "nikmati saja rasa sakitnya". demi tuhan, aku bukan masokis pemuja rasa sakit. sebentar lagi dadaku akan meledak. aku tau.
aku merasa kalah, ra. kalau selama ini aku selalu berhasil bertahan karena terus berpegang pada harap, maka tidak kali ini. aku kehabisan mimpi. tanya "sampai kapan seperti ini?" terus kembali muncul ke pemukaan. seandainya mereka untuk selamanya, apa iya selamanya pula aku jadi penguntit menyedihkan?
tidak kan? aku harus pindah, ya.
tapi bagaimana caranya,ra? bagaimana bisa? hatiku sudah dimaling dan aku tak mungkin berpaling.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment