Friday, May 24, 2013

sepenggal cerita.



"aku ingin menggenggam tanganmu," kataku suatu ketika. entah dari mana untai kata itu berasal, tiba-tiba sudah terucap begitu saja. sedikit tidak pantas, kan, mengingat kami sedang berada di ruang kelas saat itu. ya, aku menyesali kebodohanku tidak memfilter mana pikiran yang harus disebut, mana yang harus disimpan sendiri.

diamnya ia memperjelas fakta bahwa kalimatku barusan memang terlalu gamblang dan asal bunyi.

"ti..dak..jadi.." ujarku akhirnya. terbata-bata aku berkata. tidak berhasil kuredam ketidakyakinan untuk menarik ucapan sebelumnya. God, even if its a little bit inappropriate, honestly, I want it so bad.

ia memalingkan wajahnya, tak lagi memandang wajahku. ia menatap bergantian, pada kedua tanganku yang diam di pangkuan si empu, lalu kedua tangannya yang sibuk meremas kertas di atas meja.

"aku juga ingin, tapi..."

"aku tau!" potongku cepat. aku tidak perlu mendengar, bahwa ia takut kekasihnya bisa sewaktu-waktu datang. aku tidak perlu diberitahu, bahwa ada mata menyelidik dimana-mana. aku tidak perlu diingatkan, bahwa aku bukan yang paling spesial di hatinya. aku tau. aku tidak pernah lupa.

ia menghela nafas panjang.

"mungkin tidak sama rasanya dengan nyata, tapi bayangkan saja tanganku sedang menggenggam tanganmu."

uh. tidakkah ia tau bahwa semu saja tidak cukup untuk menyumpal rindu?

No comments:

Post a Comment