atas nama rasa ini itu, kuuntai kata menjadi larik - larik yang bercerita tentang aku dan gadis mawar biru.
Tuesday, October 8, 2013
gadis kereta.
kamu percaya takdir?
aku bertemu dengannya di sebuah perjalanan menuju batavia. ia duduk di sebelahku, gadis berparas manis itu. ketika aku pertama datang, ia hanya menoleh sebentar, lalu melempar sebuah sinyum simpul.
kemudian diam.. diam sampai waktu yang panjang.
kereta berjalan dalam remang temaram bulan. kantuk menyambangi sebagian besar penumpang gerbong, terkecuali aku dan gadis itu. ia masih saja menulis, mencoret di bagian sana sini buku catatan kecil di pangkuannya. dan aku ... adalah pilihan salah meneguk tiga gelas kopi hitam pekat sebelum berangkat.
aku tergoda, ingin berbincang dengannya. ia tampak ... menarik. tapi kegiatannya yang tak putusputus sejak pertama roda berputar membuatku ragu, takut mengganggu.
baru pukul dua dini hari dia berhenti dan aku lalu berani. aku memulai perbincangan dengan suara setengah berbisik. takut mengusik yang lain yang terlelap.
kumulai dengan pertanyaan, "hey, mau ke Jakarta juga?"
ah, konyol. kereta ini hanya menuju satu kota yang sama, tolol.
tapi ia menoleh kok, tersenyum, menjawab, dan bahkan membuka diskusi.
itu pertama kali kami bersitatap. sepasang mata indah kelabu keperakan itu membuatku jatuh bertekuk lutut. serupa aurora borealis, hanya saja dengan warna yang lebih abu-abu. aku tidak bisa menahan keterpesonaanku. senyum mengembang begitu saja.
semuanya bermula dengan basa-basi tidak perlu, kemudian entah bagaimana caranya kami kemudian membicarakan James Morison, Jodi Picoult dan beberapa kesamaan lain yang kami punya. menarik.
saat matahari sudah menyembul malu-malu, baru terlihat rona lelah di matanya. ia mengusap lengannya yang terpapar udara terbuka. dingin, aku tau. kalau bukan orang asing, aku sudah pasti memeluknya.
"sebaiknya kamu tidur. kamu sudah terjaga semalaman," saranku.
ia mengangguk sembari memberikan senyum semanis gulali. ia menutup mata, dan aku sibuk menatapnya. aku tau dia tau, tapi aku tak peduli, begitupun dengannya. dia terlihat damai, dan ... cantik.
pada akhirnya aku jatuh tertidur pula. lelah berhasil mengalahkanku. maka lelap, lelap, lelap. sampai kemudian aku terbangun lagi. kereta sudah berhenti, dan kursi disampingku tak lagi terisi. entah di stasiun mana ia memilih berhenti. aku tidak tau namanya. aku tidak tau nomor teleponnya. aku tidak tau kemana ia pulang setelah berkelana. tapi aku tau ... ia membawa hatiku pergi. ah, gadis kereta. aku patah hati..
dan hampir sepuluh tahun kemudian, jauh setelah momen itu tertinggal di belakang, di kota tua yang sama, di sebuah kedai kopi ternama, aku duduk tepat di sebelah jendela kaca. dan seorang gadis berteduh dari hujan di bawah kanopinya. gadis kereta mengulurkan tangan, menadahkan telapaknya pada butir air dari angkasa.
kulangkahkan kakiku keluar menghampirinya, sedetik setelah aku yakin bahwa ia gadis yang selama ini ada di hati.
"sudah dengar lagu James yang judulnya Better Man?"
ia menoleh, kemudian senyumnya merekah. ia pasti mengenaliku sebagai lelaki di kereta.
"waktu itu, aku lupa bertanya siapa namamu," kataku langsung dan tidak nyambung.
"senja.."
aku terdiam sebentar.
"kalau kamu suka bermain air, kenapa tidak hujan-hujanan sekalian?"
"tidak ada yang menemani. kalau sendiri, seperti orang hilang kendali diri."
"mau aku temani?"
senyumnya semakin lebar. dan aku memaknainya sebagai sebuah persetujuan. aku sudah hendak melangkah ke bawah langit ketika ia menahan tanganku.
"tunggu, aku juga ingin tau siapa namamu."
"fajar."
kamu percaya takdir?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

cerita yang menarik :)
ReplyDeleteaku sangat menikmati ny..
thanks ;)
Deletetiara, jadi penulis ya. nanti aku beli novelnya. :)
ReplyDeleteamin. doain aja, geb :)
Delete