atas nama rasa ini itu, kuuntai kata menjadi larik - larik yang bercerita tentang aku dan gadis mawar biru.
Wednesday, April 3, 2013
pasar mimpi ~
saya bertemu penjual mimpi tadi pagi.
ia begitu antusias menjajakan dagangannya.
"beli yang jingga ini mbak, ini kualitas paling baik seantero dunia."
"atau yang biru muda? yang ini impor lho, dari negri di utara sana."
"yang warna marun ini limited edition. mbak pasti menyesal kalau tidak membelinya."
saya hanya tertegun semantara ia terus menawarkan seabrek warna warni.
merah menggoda, hijau gembira, kuning ceria.
saya ingin menjadi tidak tahu diri, dan beranjak pergi,
karena nyatanya saya tidak pernah mau bermimpi lagi.
sudah sejak lama terkonsep persepsi "mimpi indah selalu berakhir menyakiti".
tapi kasihan si penjual mimpi.
nafas dan detiknya telah terbuang sia-sia untuk menjelaskan ini itu pada saya.
seharusnya kalau memang tidak berniat membeli, saya tidak perlu datang ke kios ini sejak awal, ya?
huh entahlah, ada hasrat tak beralasan yang tiba-tiba menggiring saya ke sini.
saya menghela nafas sesal, lalu memandang berkeliling.
pada tumpukan mimpi yang diobral,
pada mimpi yang dipajang di etalase,
lalu berakhir pada mimpi yang dikenakan si penjaja tua renta.
"saya ingin membeli yang sedang anda pakai."
hitam yang tak lagi legam, sudah jadi abuabu terkikis waktu.
tak lagi bersih polos, sudah banyak bercak noda ragu.
"ini? ini tidak dijual. tidak ada harganya."
"tidak ada harganya? kalau begitu, apakah salah kalau saya menghargai apa yang tidak berharga?"
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment