Monday, April 28, 2014

ditertawakan rembulan.



Sekarang bulan tertawa, mengolok kita berdua yang terdiam seribu bahasa.
Ia terpingkal, membaca perubahan yang menukik begitu tajam.
"Mana sipu malu yang diagungkan kemarin malam?
Kenapa kini saling terpaku dan masing-masing sibuk mendiamkan hati yang membiru bisu?"

Aku tidak menjawab.
Kamu tidak mau mendengarnya barang sekejap.
Biar saja ia bicara.
Biar saja ia berkata.
Kita memang sepasang gila seperti yang dibilangnya.
Berjalan tanpa arah, lalu hilang di antah berantah.

Bulan geleng-geleng kepala setelah lelah tergelak hingga jatuh tersedak.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran para manusia.
Baru saja berbahagia, baru saja berbangga,
kenapa sekarang sudah saling menorehkan luka?"

- 27

No comments:

Post a Comment