Thursday, August 23, 2012

sebuah kisah tentang rindu.



pagi itu, aku berada di parkiran,
baru saja tiba di halaman kampus Universitas Sanata Dharma.
gedung yang masih terasa asing bagiku,
namun kan kudatangi hampir setiap hari selama 3,5 tahun (semoga tidak lebih).

ketika itu, aku melihat sosokmu.
seseorang berhoodie biru tua, sepatu basket dan backpack,
seperti yang selalu kau pakai.
aku memarkir motor asal-asalan dan segera berlari mengejarmu.
kubuntuti kamu dan kuperhatikan dari kejauhan.
di antara jari-jarimu, terselip sepuntung rokok yang masih tersulut.
ah! benar itu kamu!

aku berjalan lebih cepat tuk mendekat,
berharap bisa memandang wajahmu yang selalu membayang di liburan panjang,
secara diam-diam, tentunya,
aku mengikutimu sambil terus memperkecil jarak antara kita.
aku hanya diam menatapmu dari belakang,
tanpa berusaha memanggil atau bahkan menyapamu.
aku terlalu canggung, malu dan tak punya nyali.
sadarkah kamu, ketika mata cokelatmu memandang tepat di sepasang mata legamku,
pipiku kan bersemu begitu merah bagai buah plum.

sejak pertama melihat sosokmu hari itu,
ada ragu yang menyusup masuk,
tapi ada sisi lain dari diriku yang coba bunuh ragu itu,
"mungkin saja kamu datang walaupun tak ada jadwal kuliah", pikirku.
perdebatan sengit itu masih berlangsung, dan aku masih terus mencoba meredamnya,
walau langkah kakiku masih membawaku menyusuri setapak yang sama denganmu.
sampai pada akhirnya, aku menyadari,
celanamu terlalu kaku, menghilangkan kesan santai yang selalu lekat di dirimu.
rambutmu tidak acak-acakan seperti biasa.
yang ini, terlalu rapi dan klimis.
apa benar itu kamu yang kukejar dan kuikuti sejak tadi?

menolehlah sebentar, ke belakang, atau hanya ke samping,
agar aku bisa melihat wajahmu sekilas.

kamu melewati gedung fakultas psikologi tanpa berbelok dan kemudian masuk.
harusnya itu tujuan kamu,
sebuah gedung yang memungkinkan adanya pertemuan tak disengaja antara aku dan kamu.
kamu masih terus berjalan lurus menuju gedung di sudut lain kampus,
sementara langkahku melambat, kemudian berhenti sempurna.
kepalaku menunduk.
hanya itu. tidak kemudian langsung jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu.
tidak! tidak sedramatis itu.
aku hanya menepikan diri, mencoba mengobati luka kecewa secara ekspres.
gagal!
5 menit.. 10 menit..
aku tak kunjung berhasil, menggiringku kepada kata "menyerah".
aku biarkan kecewa mendekapku erat.
aku melangkah lagi, kali ini tidak terburu-buru karena mengejar atau dikejar sesuatu.
aku berjalan lamat-lamat, sambil menatap ubin batu yang berirama kelabu.

kenapa masih berharap itu memang kamu,
padahal tau tak ada alasan apapun yang membawamu kemari pagi ini?
kenapa tetap keras kepala,
padahal telah disisipkan ragu tuk peringatkanku?
kenapa.. kenapa..
oh! tunggu dulu! aku tau kenapa.
karena aku merindumu.

No comments:

Post a Comment