Supaya aku tidak perlu kepayahan melepas bayanganmu dari kepalaku.
Setelah waktu pertama itu, memori tentangmu selalu hadir bersama seduhan kopi pagi hari.
Ada uap yang mengepulkan namamu ke udara.
Ada ampas yang membentuk wajah-rupawan mu di dasar cangkir.
Ugh sialan!
Mengingatmu menyadarkanku tentang betapa menyedihkannya aku.
Aku sering bertanya-tanya, bisa tidak kamu berbaik hati sekaliiiiii saja.
Biarkan aku sendiri, tanpa angan-angan basi yang membuatku tak ubahnya keledai dungu.
Menginginkanmu membuatku jengah pada diri ini.
Aku muak hidup di tubuh tak tau diri, yang tak pernah lihat-lihat siapa yang ingin dimiliki.
Terkadang ... pada dirimu pun aku sebal.
Kenapa kamu begitu kurang ajar,
mencuri hatiku semudah itu, sementara aku harus kesusahan mencari celah untuk mengintip apa yang ada di dadamu.
Sial sial sial!
Seharusnya kita tidak pernah bertemu.
Supaya aku tidak berandai-andai tentang nyamannya berada di pelukanmu.

No comments:
Post a Comment