Beberapa malam belakangan aku memimpikanmu ra. Kamu seolah datang dan benar-benar bertandang. Kamu tau, melihatmu di tidurku adalah hal yang ku suka. Menyenangkan, secara konstan mengingatkan. Aku tidak mau waktu mengaburkan memoar akan mu, akan wajahmu yang kata mereka mirip dengan punyaku. Seperti laut, biru dan dalam.
Kadang kehadiranmu terasa begitu nyata, ra. Sampai-sampai muncul keinginan untuk menggapaimu, lalu menggenggam tanganmu, kemudian mengalirkan rasa melaluinya. "Berbagi, agar tidak terasa terlalu sendiri."
Ra, malam-malam terakhir begitu membingungkan. Tak kentara lagi batas antara lelap dan terjaga, sebab entah mataku sedang terbuka atau tidak, kamu selalu tampak sangat dekat.
Tapi aku sedang belajar, ra. Aku sedang menanamkan keyakinan dalam-dalam bahwa seringkali yang kita lihat tidak benar-benar ada di sana. Fatamorgana.
Aku tidak akan menafsirkannya (mimpi tentangmu) macam-macam, ra. "Kamu tidak tenang" atau sebagainya. Tidak. Aku percaya ini hanya bunga tidur atau proyeksi rindu ku saja. Apapun artinya, aku bersyukur masih bisa melihatmu lagi dan lagi. Aku tidak akan pernah berhenti berdoa, ra.
- kamu, yang sudah jadi bintang.
Aku tidak akan menafsirkannya (mimpi tentangmu) macam-macam, ra. "Kamu tidak tenang" atau sebagainya. Tidak. Aku percaya ini hanya bunga tidur atau proyeksi rindu ku saja. Apapun artinya, aku bersyukur masih bisa melihatmu lagi dan lagi. Aku tidak akan pernah berhenti berdoa, ra.
- kamu, yang sudah jadi bintang.

No comments:
Post a Comment