atas nama rasa ini itu, kuuntai kata menjadi larik - larik yang bercerita tentang aku dan gadis mawar biru.
Tuesday, March 4, 2014
something called flashback.
Tatkala senja di hari tak bernama, aku duduk sendirian di beranda.
Sepenuhnya tak berteman jika hujan tak keburu datang.
Aku diam dengan mata terpejam,
menikmati sunyi dan selebihnya rintik sepi.
Damai, tapi hanya sampai sesaat sebelum piano di dalam sana berdenting lirih.
Siapa yang berani mengetukkan jarinya di tuts-tuts berdebu di ruang tamu?
Oh.. Memori.. Kepalaku sendiri..
Dadaku bergemuruh saat diperdengarkan lagu lama.
Selantun nada yang dimainkan di saat pertemuan pertama kita.
Momen waktu itu direkam dengan begitu sempurna,
kemudian diingat dengan sama persisnya.
Ugh, mengenang membuatku tak lagi ada di sini.
Seakan kembali ke masa lalu, dan bertemu dengan aku yang dulu.
Ya, lengkap dengan kamu. Kamu yang sekarang di mana, aku tak tau.
~ aku tidak mau kembali dalam hari dimana namamu berarti ketiadaan.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

waktu tak dapat dihentikan atau pun dilompatkan,
ReplyDeleteya sayangnya..
Deletetidak ada yang salah dengan menoleh pada masa lalu, yang keliru hanyalah jika bersikukuh tak ingin beranjak pada waktu yang jelas sudah teramat lalu untuk ditinggali.
ReplyDeleteuwooo, makin menusuk aja tulisannya, hikshuks. keren, keep going adek. \(^_^)/
ya, tapi godaannya besar banget buat tetap "tinggal" di masa lalu ketika di sana jauh lebih baik daripada saat ini..
Deletehehe makasih kak reni :)
bener bangeeetttt. :(
ReplyDeletekarena bukan 'terkadang' melainkan 'seringkali' masa lalu jauh terasa lebih baik daripada sekarang, walaupun sadar mengeluh juga nggak bikin keadaan jadi lebih baik, haduuuhhh masa lalu, satu detik lagi, hal ini juga akan jadi masa lalu, tinggal memilih membuatnya jadi indah atau terlewat menyakitkan buat dikenang. hiks.
semangat buat kita deh kalo gtu, yang 'sepertinya menyengajakan diri terjebak masa lalu' .. :D
iya kak. ayo move on :)
Delete