Tuesday, June 4, 2013

sore bersama gadis goblok.



tadi sore, aku bertemu gadis bodoh. dia begitu dungu dan tolol. hey, bukannya aku ingin mengatai dan memaki. memang begitu kenyataannya. kalau kau bertemu dengannya, kau akan mengatakan hal yang sama seperti yang aku katakan barusan.

mari sini ku ceritakan.

jadi, saat aku membuka pintu dan masuk ruangan, senja tadi, ia buru-buru menghampiriku. tanpa berkenalan atau sekedar berjabat tangan, ia langsung berbicara panjang lebar tentang dirinya dan pangeran impiannya.

aku tidak terlalu mendengarkan secara teliti, sih. tapi ada beberapa hal yang aku tangkap.
"aku mencintainya. aku memang tidak pernah mengungkapkannya. tapi aku tau ia tau. ia hanya pura-pura tak tau."
"tak apa, aku akan tetap menunggu sampai ia benar-benar membuka hatinya untukku."
"ia dan perempuannya tampak saling mencintai, dan mereka terlihat bahagia bersama."

bodoh kan? kalau sudah tau laki-laki itu tidak pernah peduli, kenapa masih peduli? kalau sudah tau penantiannya sia-sia, kenapa masih menanti? tolol sekali memilih hidup berkubang saat ada jutaan pilihan lain yang lebih baik.

semakin ke belakang, yang ia ucap semakin tidak rasional. semuanya terdengar konyol dan tidak bermutu di telingaku. tapi ia tak kunjung berhenti bicara, bahkan tak berjeda. pusing aku, dibuatnya. mulanya aku bisa menahan diri. mulanya... sampai akhirnya habis juga kesabaranku.

aku berbalik hendak pergi meninggalkannya seorang diri. tapi dengan sigap ia menarik sebelah tanganku agar aku tertahan dan tetap tinggal. aku memberontak. tapi tak berhasil lepas. sembari sibuk membuatku gagal beranjak, ia masih saja berceloteh ria.

aaaargghh! suara dan kisahnya membuatku frustasi. mungkin membuatnya tak sadarkan diri adalah cara satu-satunya untuk membuatnya diam. maka kulayangkan tinju dari tanganku yang masih bebas dan kudaratkan tepat di wajahnya. begitu kuat dan bertenaga penuh. sewaktu kepal tangan masih di udara, aku 100% yakin sanggup mematahkan hidungnya. tapi sewaktu rasa sakit menghantam buku jariku, sadarlah aku bahwa ternyata aku terlalu meremehkan gadis itu. ia memang perempuan bodoh, tapi rupanya ia begitu tangguh.

buktinya, cermin yang baru saja ku hajar tidak kenapa-kenapa. hanya dan cuma retak.

No comments:

Post a Comment